Oleh Asep Yudi Taupik Rahman, ST.
Guru Mata Pelajaran Informatika
Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk pendidikan. Kehadiran AI generatif seperti chatbot, large language models, sistem rekomendasi pembelajaran, dan perangkat analisis data memberikan peluang bagi lembaga pendidikan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran, membantu guru dalam penyusunan bahan ajar, memberikan pengalaman belajar yang lebih personal, serta mendorong kreativitas dan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Namun, pemanfaatan AI juga menghadirkan persoalan serius, antara lain ketergantungan terhadap teknologi, plagiarisme, berkurangnya kemandirian berpikir, penyebaran informasi yang keliru, persoalan privasi, dan potensi penyalahgunaan teknologi.
Pemanfaatan AI tidak cukup dipandang dari perspektif efisiensi dan kecanggihan teknologi. Teknologi harus ditempatkan dalam kerangka pendidikan yang menempatkan ilmu, akhlak, adab, tanggung jawab, kejujuran, dan kemaslahatan sebagai landasan utama. Artikel ini bertujuan menganalisis tantangan pemanfaatan AI dalam Pendidikan berbasis adab. Pendekatan yang digunakan adalah kajian pustaka dengan mengintegrasikan literatur mengenai AI dalam pendidikan, kebijakan pendidikan Indonesia, kerangka kompetensi AI UNESCO, serta prinsip-prinsip pendidikan Islam.
Hasil kajian menunjukkan bahwa AI dapat menjadi asisten pembelajaran yang kuat apabila digunakan secara terarah. Sebaliknya, AI dapat menjadi ancaman terhadap kualitas pendidikan apabila menggantikan proses berpikir, kreativitas, interaksi guru dan murid, serta nilai-nilai kejujuran. Oleh karena itu, prinsip utama pemanfaatan AI di madrasah berbasis pesantren adalah “teknologi boleh semakin maju, tetapi adab harus tetap menjadi kompas.”
Dalam Kemajuan teknologi tidak otomatis menghasilkan kemajuan manusia. Seorang murid mungkin mampu menggunakan AI dengan sangat cepat, tetapi apabila ia menggunakan AI untuk menyontek, berbohong, melakukan plagiarisme, atau menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin, maka kecanggihan teknologi tersebut justru dapat merusak tujuan pendidikan. Oleh karena itu, dalam pendidikan berbasis harus dibangun prinsip:
“Semakin canggih teknologinya, semakin kuat pula adab penggunanya.”
Pertemuan AI dengan pendidikan sebenarnya bukanlah pertentangan antara teknologi dan agama, tetapi yang diperlukan adalah integrasi.
Teknologi menjawab:
“Bagaimana sesuatu dapat dilakukan dengan lebih cepat?”
Pendidikan menjawab:
“Apa yang harus dipelajari?”
Sedangkan adab menjawab:
“Bagaimana sesuatu itu digunakan dengan benar?”
Ketiganya harus berjalan bersama.
Jika hanya ada teknologi tanpa ilmu, manusia dapat menjadi pengguna yang tidak kritis.
Jika ada teknologi dan ilmu tetapi tidak ada adab, teknologi dapat disalahgunakan.
Jika ada ilmu dan adab tetapi tidak mampu mengikuti perkembangan teknologi, peserta didik dapat tertinggal dalam menghadapi perubahan zaman.
Karena itu, pendidikan madrasah berbasis pesantren perlu membangun tiga kekuatan:
Ilmu + Teknologi + Adab
Ketiganya merupakan fondasi yang saling melengkapi.
QS. Al-‘Alaq Ayat 1–5
Wahyu pertama dimulai dengan perintah:
اقْرَأْ
Iqra’ — Bacalah.
Pesan tersebut menunjukkan pentingnya membaca, belajar, dan mencari pengetahuan. Dalam konteks modern, AI dapat menjadi salah satu instrumen untuk membantu manusia memperoleh informasi. Akan tetapi, semangat iqra’ tidak berarti menerima semua informasi secara otomatis. Membaca harus diikuti dengan: memahami → menilai → memverifikasi → mengambil manfaat. Dengan demikian, AI harus digunakan untuk memperkuat budaya belajar, bukan menggantikan proses belajar.
Allah SWT berfirman tentang pentingnya melakukan verifikasi terhadap suatu berita. Prinsip ini sangat relevan dengan AI. AI dapat menghasilkan jawaban yang tampak meyakinkan tetapi belum tentu benar. Karena itu, murid harus memiliki budaya: “Jangan langsung percaya; periksa terlebih dahulu.” Prinsip tabayyun dapat menjadi salah satu dasar literasi AI di madrasah.
Ayat tersebut mengajarkan agar manusia tidak mengikuti sesuatu yang tidak memiliki dasar pengetahuan. Dalam konteks AI, ayat ini dapat diterjemahkan sebagai prinsip: Jangan menerima keluaran AI tanpa pemeriksaan.
Berikut salah satu penerapan AI Berbasis Adab yang sudah di terapkan di salah satu madrasah untuk memaksimalkan penggunaan AI di dunia Pendidikan.
Contoh Model “AI Berbasis Adab” MA YPPA Cipulus
MA YPPA Cipulus Purwakarta mengembangkan sebuah prinsip internal yang disebut : “AI-ADAB”
A — Amanah : AI digunakan untuk kepentingan pembelajaran, bukan untuk menipu.
I — Ilmiah : Setiap informasi yang diperoleh dari AI harus diverifikasi.
A — Akhlak : Teknologi harus digunakan dengan etika.
D — Disiplin : Penggunaan AI harus mengikuti aturan madrasah.
A — Autentik : Peserta didik harus menghasilkan karya yang mencerminkan pemikirannya sendiri.
B — Bertanggung Jawab : Pengguna harus bertanggung jawab terhadap hasil penggunaan AI.
Dengan demikian AI harus ditempatkan dalam kerangka pendidikan yang lebih luas. AI tidak boleh hanya dilihat sebagai alat untuk mempercepat pekerjaan, tetapi sebagai teknologi yang harus dikendalikan oleh ilmu, iman, akhlak, dan adab. Pendidikan memiliki modal penting untuk menghadapi era AI, yaitu tradisi keilmuan, penghormatan kepada guru, kedisiplinan, kejujuran, tanggung jawab, dan pembentukan akhlak.
Oleh karna itu, paradigma yang perlu dibangun bukan: “AI menggantikan manusia.”
Tetapi: “Manusia yang berilmu dan beradab memanfaatkan AI untuk kemaslahatan.”
Daftar Pustaka
Luar biasaaa
Mantap
Kerrrennn…
Trimakasih Ilmunya Pak Asep
Sangat mengedukasi, supaya kita lebih bijak dalam menggunakannya
Terimakasih ilmunya guru
Wonderfull
Nice
Bukan AI yang akan menguasai dunia, tetapi manusia yang menguasai AI yang akan mengendalikan dunia
Mantap luar biasa
Tinggalkan Komentar