Oleh : Lilis Nuraisyah, S.Pd.I
Guru Mapel Fikih
Syukur merupakan salah satu akhlak mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam. Syukur berarti menyadari, mengakui, dan menghargai segala nikmat yang diberikan Allah Swt. kepada manusia. Nikmat tersebut tidak hanya berupa harta, kesehatan, dan kesuksesan, tetapi juga berupa kehidupan, keluarga, ilmu, kesempatan beribadah, serta berbagai kebaikan yang sering kali tidak kita sadari.
Dalam syariat Islam, syukur tidak cukup hanya diucapkan dengan kata “Alhamdulillah”. Menurut Imam Al-Ghazali Syukur memiliki tiga bentuk utama, yaitu syukur dengan hati, lisan, dan perbuatan. Syukur dengan hati berarti meyakini bahwa semua nikmat berasal dari Allah Swt. Syukur dengan lisan dilakukan dengan memuji Allah, mengucapkan hamdalah, serta menceritakan nikmat dalam rangka mengakui karunia-Nya. Sementara itu, syukur dengan perbuatan berarti menggunakan nikmat yang diberikan Allah untuk melakukan kebaikan dan menjalankan perintah-Nya.
Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an Surah Ibrahim ayat 7:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
“(ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan; Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”
Ayat ini menunjukkan bahwa syukur memiliki kedudukan penting dalam kehidupan seorang muslim. Syukur bukan hanya sebagai bentuk terima kasih kepada Allah, tetapi sebagai pengikat nikmat yang sudah ada dan penarik nikmat yang belum ada. Begitupun sebaliknya yang kufur akan dicabut keberkahan hidupnya dan diancam dengan azab yang keras.
Mengutip dari tulisan Lora Ismael Al Kholilie: Kadang Alloh SWT menguji manusia dengan cara mengirimkan takdir yang membuat menangis sesaat, agar setelahnya tak menangis untuk selamanya. Ia menunda keinginan mu setahun saja, namun setelah itu Ia menumpahkan lautan pemberian-Nya. Kadang Ia mengambil secuil rezeki dan pemberian-Nya, demi menghujanimu ribuan kenikmatan setelahnya. Kadang Ia mengirimkan ujian diluar kendalimu dan tak pernah terbayangkan sebelumnya, sebagai permulaan dari hal-hal indah yang akan datang dan tak pernah terbayangkan dalam pikiranmu. Kadang Ia melakukan sesuatu yang membuatmu bertanya “ mengapa ini terjadi padaku?” hatimu tak terima bahkan akalmu tak bisa mencerna, hingga pada akhirnya Ia memperlihatkan untukmu alasan-alasan indah dibalik ketetapannya, yang menjadi bukti betapa luar biasa bijak Ia dalam setiap Qodho dan Qodar-Nya.
Dan seringkali hal-hal yang tidak nyaman membuatmu tenggelam dalam menyalahkan takdir, engkau lebih mengingat hal-hal yang hilang darimu daripada hal-hal indah yang kau dapatkan. Sadarlah, jangan penjarankan jiwamu dalam sifat kanud (menafikan nikmat) karena jika sering menghitung ujian dan melupakan nikmat akan hidup dalam penyangkalan dan akan mengalami pergulatan pahit berupa ketidak-ridhoan selama ia menjalani hidup. Orang yang bersyukur tidak berarti hidupnya selalu tanpa masalah. Namun, ia mampu melihat bahwa di balik setiap keadaan selalu ada hikmah dan kebaikan yang dapat diambil. Ketika mendapatkan keberhasilan, ia tidak sombong karena menyadari bahwa keberhasilan tersebut merupakan pertolongan Allah. Ketika mendapatkan ujian, ia tetap berusaha, bersabar, dan percaya kepada ketentuan-Nya.
Dengan demikian, syukur merupakan sikap yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Bersyukur berarti menyadari nikmat Allah, memuji-Nya, serta menggunakan nikmat tersebut sesuai dengan kehendak-Nya. Semakin seseorang memahami makna syukur, semakin ia menyadari bahwa kehidupan yang dimilikinya merupakan amanah dan karunia yang harus dijaga serta dimanfaatkan untuk kebaikan.
Mantap
Kerrrennn
Semoga kita selalau menjdi hamba yang pandai bersyukur
Alhamdulillah, semoga kita termasuk kedalam golongan orang2 yang pandai bersyukur
Barakallah
Tulisan yang bagus. Semoga kita semua termasuk golongan manusia yang selalu bersyukur.
Aamiin yaa robbal alamiin
Mantap luar biasa
Tinggalkan Komentar