Oleh: Ibar Farid B Ramdani, S.Pd.
Guru Mata Pelajaran Matematika
Pernahkah kita merasa stres karena banyak masalah datang bersamaan? Tugas sekolah menumpuk, harus belajar untuk ulangan, tugas kelompok belum selesai, ditambah masalah dengan teman. Semua terasa berat karena kita memikirkannya sekaligus. Padahal, masalah yang besar bisa kita hadapi dengan cara mengurainya menjadi bagian-bagian kecil. John Sweller menjelaskan bahwa kemampuan otak dalam mengolah informasi memiliki keterbatasan. Ketika terlalu banyak hal dipikirkan sekaligus, kita bisa menjadi bingung dan sulit menyelesaikan masalah.¹
Misalkan ada seorang siswa mendapat banyak sekali tugas yaitu tugas Matematika, Biologi, Bahasa Indonesia, presentasi kelompok di kelas, dan juga harus belajar untuk ulangan. Jika dilihat keseluruhan pasti akan teras berat dan membuat stress, tetapi dalam menghadapinya jangan pernah berpikir, “Saya harus menyelesaikan semuanya sekarang.” Mulailah dengan mengatakan, “Saya kerjakan satu dulu.”
Buatlah langkah sederhana, misalkan dalam satu hari sepulang sekolah kita dapat membagi waktunya:
(atau bisa dibagi menjadi 2 hari sesuai dengan waktu yang tersedia)
Dengan membagi tugas seperti itu, kita tidak perlu memikirkan semuanya dalam waktu yang sama. Setelah satu tugas selesai, kita bisa beralih ke tugas berikutnya. Setiap tugas yang berhasil diselesaikan juga dapat memberikan rasa lega dan membuat kita lebih percaya diri untuk melanjutkan pekerjaan berikutnya.
Tugasnya tetap sama, tetapi sekarang terasa lebih ringan karena dikerjakan satu per satu. Hal yang sama bisa dilakukan ketika menghadapi masalah lain. Tidak semua masalah harus langsung diselesaikan sekaligus. Kadang-kadang, yang kita perlukan hanyalah menemukan bagian pertama yang bisa kita kerjakan.
Cara berpikir seperti ini juga dapat dikaitkan dengan first principles, yaitu mencoba memahami masalah dari hal yang paling dasar. Dalam wawancara dengan APS News, Elon Musk menjelaskan pentingnya berpikir berdasarkan dasar-dasar persoalan, bukan hanya mengikuti cara yang sudah biasa digunakan.²
Contohnya, ketika nilai Matematika turun, jangan langsung berkata, “Saya tidak pintar Matematika.” Tanyakan terlebih dahulu, “Bagian mana yang belum saya pahami?” Jika ternyata masalahnya adalah persamaan kuadrat, mulailah dari konsep dan soal yang paling sederhana, pahami konsep dasarnya dengan baik dengan bertanya atau belajar sendiri kemudian kerjakan beberapa soal mudah lalu tingkatkan dengan soal sedang dan kemudia bisa dilanjutkan dengan soal yang lebih rumit dan ulangi beberapa kali sampai kita merasa faham.
Kita perlu berhati-hati agar tidak membuat masalah menjadi lebih rumit dengan kesimpulan atau dugaan yang belum tentu benar. Dalam filsafat ilmu dikenal prinsip Occam’s Razor atau Pisau Ockham, yang mengajarkan agar kita tidak menambahkan asumsi yang sebenarnya tidak diperlukan dalam memahami suatu persoalan.³
Prinsip sederhana ini juga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalkan ketika seorang teman tidak membalas pesan, kita tidak perlu langsung berpikir bahwa ia marah atau tidak menyukai kita. Bisa saja ia sedang sibuk, belajar, atau memang belum sempat membuka HP. Dengan tidak terburu-buru membuat kesimpulan, kita dapat menghindari masalah yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Begitu pula ketika menghadapi kegagalan, misalnya ketika kita memperoleh nilai ujian yang rendah tidak otomatis berarti kita tidak mampu dan merasa menjadi manusia paling bodoh. Kegagalan bisa menjadi tanda bahwa ada bagian tertentu yang perlu diperbaiki. Dengan mencari penyebabnya, kita dapat menentukan langkah berikutnya dengan lebih jelas.
Yang tidak kalah penting, mengurai masalah membutuhkan kesabaran terhadap diri sendiri. Ada kalanya kita sudah berusaha, tetapi hasilnya belum sesuai harapan. Dalam keadaan seperti itu, jangan buru-buru menganggap diri kita gagal. Berikan kesempatan untuk belajar dari proses yang sedang dijalani. Sama seperti menyelesaikan soal Matematika, terkadang kita perlu mencoba cara lain ketika cara pertama belum berhasil. Kesalahan bukan akhir dari proses, melainkan informasi yang membantu kita mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki.
Pada akhirnya, kemampuan mengurai masalah bukan hanya tentang menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga tentang membangun cara berpikir yang lebih tenang dan terarah. Ketika kita terbiasa memisahkan mana yang harus dikerjakan sekarang, mana yang bisa dilakukan nanti, dan mana yang sebenarnya tidak perlu terlalu dipikirkan, kita akan lebih mampu mengendalikan respons terhadap berbagai persoalan. Masalah mungkin tidak selalu menjadi lebih kecil, tetapi cara kita menghadapinya menjadi lebih baik. Dari situlah langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten dapat berubah menjadi sebuah kemajuan yang berarti. Jadi, ketika menghadapi masalah, jangan langsung melihat semuanya sebagai satu beban besar atau merasa masalah yang kita hadapi adalah masalah yang paling besar dibanding masalah yang dihadapi orang lain bahkan lebih parah lagi ketika menghadapi masalah rasanya bumi ini hancur dan tidak ada semangat lagi untuk melanjutkan hidup. Jika masalah itu muncul yang bisa kita lakukan adalah berhenti sejenak, cari masalah utamanya, pecah menjadi bagian kecil, lalu kerjakan satu per satu.

“Maka, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 5–6)
Masya Allah
Keren panutan
Berproses, berpogres, kerjakan hingga beres, tak usah setres insyaallah sukses
♥️
Well
Masyaallah ♥️
Wooow…itu kesan pertama saat membaca satu paraghraf… selanjutnya… kereeen , ada mindset yang harus di perbaiki
Subhanallah semoga kita semua dapat menyelesaikan setiap masalah..
Semoga kita semua dapat menyelesaikan setiap masalah aminn…
Nikmati prosesnya, sempurnakan ikhtiarnya
Mantap pak, keren
Mantap…., tetap semangat.
Kerrrennn…
Inspiratif
Keren pak
Solusi yg pasti
Subhanallah mantap luar biasa ketua
Tinggalkan Komentar