Oleh : H. Deden Awaludin, M.Pd.
Guru Mapel B. Sunda
Madrasah Aliyah YPPA Cipulus, sebagai sebuah institusi pendidikan yang berakar pada lingkungan pesantren, mempunyai fenomena unik dalam pembelajaran Bahasa Sunda seringkali teramati. Madrasah ini menarik santri dari berbagai wilayah, tak hanya Purwakarta, melainkan juga dari Karawang, Subang, Bekasi, hingga Jakarta. Keberagaman latar belakang geografis dan linguistik ini menciptakan sebuah dinamika tersendiri dalam pengenalan dan pemertahanan Bahasa Sunda.
Realitas di Lapangan : Antara Keterasingan dan Potensi
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar santri belum akrab dengan Bahasa Sunda. Bagi mereka yang tumbuh di luar tatar Sunda, bahasa ini kerap terasa asing di telinga. Keterbatasan kosakata, kesulitan memahami struktur kalimat, dan keengganan untuk mencoba berkomunikasi dalam Bahasa Sunda adalah gejala umum yang terpantau. Ini merupakan konsekuensi logis dari lingkungan sehari-hari yang didominasi Bahasa Indonesia atau dialek daerah asal mereka. Akibatnya, motivasi untuk mempelajari Bahasa Sunda seringkali rendah, menjadikan proses belajar sebagai sebuah tantangan bagi tenaga pendidik maupun peserta didik.
Namun, di balik tantangan ini, potensi besar dapat diidentifikasi. Lingkungan pesantren, dengan karakteristik kedisiplinan dan tradisi belajarnya, menawarkan sebuah landasan yang kuat. Santri terbiasa dengan metode hafalan dan pengulangan, sebuah modal penting dalam pemerolehan bahasa. Selain itu, kehadiran beberapa santri yang memiliki dasar Bahasa Sunda dapat dimanfaatkan sebagai aset berharga; mereka berpotensi menjadi agen perubahan atau pendamping bagi rekan-rekan mereka.
Merumuskan Strategi Adaptif dan Inovatif : Dari Kelas ke Kehidupan
Untuk menumbuhkan dan melestarikan Bahasa Sunda di tengah heterogenitas ini, diperlukan pendekatan yang tidak lagi konvensional. Pembelajaran harus dirancang agar lebih dinamis, relevan, dan menarik:
Pertama, Fokus pada Komunikasi Kontekstual. Pembelajaran Bahasa Sunda perlu bergeser dari sekadar teori tata bahasa menjadi aplikasi komunikasi nyata. Materi dapat diintegrasikan dengan kehidupan sehari-hari santri, seperti percakapan di asrama, kegiatan keagamaan, atau interaksi sosial di lingkungan pesantren. Penggunaan simulasi dan permainan peran sangat dianjurkan untuk memicu partisipasi aktif.
Kedua, Pemanfaatan Media Multimodal. Dalam era digital, diversifikasi media ajar menjadi krusial. Penggunaan video pendek (misalnya, vlog berbahasa Sunda yang relevan), lagu-lagu Sunda yang ceria, atau aplikasi pembelajaran interaktif dapat meningkatkan minat dan daya serap. Penayangan film atau cerita rakyat Sunda dengan subtitle juga dapat menjadi pintu gerbang yang menarik untuk mengenal budaya dan bahasanya.
Ketiga, Penciptaan Lingkungan Berbahasa Inklusif. Upaya untuk mendorong penggunaan Bahasa Sunda di luar kelas sangat penting. Program seperti “Pekan Bahasa Sunda” atau “Hari Berbahasa Sunda” dapat diadakan secara berkala. Seluruh warga pesantren, termasuk tenaga pengajar dan staf, perlu diajak untuk mencoba menggunakan sapaan atau frasa sederhana dalam Bahasa Sunda. Santri yang fasih dapat diberdayakan sebagai peer tutor untuk menciptakan suasana belajar yang suportif.
Keempat, Kolaborasi dengan Komunitas Lokal. Wilayah Cipulus dan sekitarnya kaya akan penutur asli Bahasa Sunda. Mengundang mereka ke pesantren—misalnya untuk berbagi cerita, membaca puisi, atau mengajarkan tembang Sunda—akan memberikan pengalaman belajar yang otentik dan bermakna. Ini menunjukkan bahwa Bahasa Sunda tidak hanya terbatas pada ranah akademik, tetapi merupakan bagian integral dari kehidupan sosial dan budaya.
Harapan ke Depan : Pelestarian dan Pengembangan
Pembelajaran Bahasa Sunda di MA YPPA Cipulus bukan hanya tentang pemenuhan kurikulum, melainkan tentang penanaman apresiasi terhadap warisan budaya. Di tengah arus globalisasi, menjaga kelestarian Bahasa Sunda di hati generasi muda, meskipun mereka berasal dari latar belakang non-Sunda, merupakan sebuah investasi strategis.
Dengan dedikasi tenaga pendidik, dukungan dari yayasan dan lingkungan pesantren, serta implementasi strategi yang adaptif dan inovatif, tantangan-tantangan yang ada diyakini dapat diatasi. Bahasa Sunda diharapkan tidak lagi menjadi sebuah hambatan, melainkan sebuah ekspedisi kultural yang memperkaya identitas dan pengetahuan santri. Dari lingkungan pesantren ini, diharapkan akan lahir generasi yang tidak hanya mahir dalam berbagai ilmu, tetapi juga bangga dan mampu melestarikan Bahasa Sunda.
Setujuuuu
Masya Allah pembahasan yang keren
Bravoo
Bahasa Sunda bahasa indung, lestarikan amalkan
Luar biasaa aa hajj
Bahasa Sunda, memang luar biasa,,,,
Mantap
Kerrrennn Pak Haji
Hidup Sunda empire
Mantap pa hajiiiiii
Sae pa haji
Tinggalkan Komentar